Ketika Pulau Komodo dan Danau Kelimutu Sudah Terlalu Mainstream, Coba deh ke Kampung-Kampung Adat di Flores Berikut
Ngadem.com – Sudah
seberapa sering sih kamu melihat foto-foto di Instagram yang mengeksplor
keindahan pulau Komodo atau Danau Kelimutu di Flores? Pasti tak
terhitung jumlahnya ya. Tapi kamu tidak berpikir kalau Flores cuma punya
Pulau Komodo dan Danau Kelimutu kan? Kalau sampai kamu berpikir seperti
itu, semoga tulisan ini dapat menyelamatkanmu.
Dan inilah, 6 kampung adat di Flores yang bisa masuk list destinasimu berikutnya:
Pertama, coba deh cek Kampung Adat Bena. Kamu bisa melihat proses pembuatan kain tenun ikat dan mencicip nikmatnya Kopi Bajawa.
Kampung Adat Bena merupakan kampung
primitif yang tersembunyi di balik gunung Inerie atau lebih tepatnya
berada di lembah Jerebu’u. Kampung Adat Bena terletak tidak jauh dari
jantung kota Bajawa. Dari pusat kota Bajawa, kamu hanya perlu menempuh
perjalanan kurang lebih satu jam. Kami sarankan untuk menggunakan
kendaraan pribadi karena akses angkutan umum di Bajawa yang belum
terlalu memadai.
Setibanya di Kampung Bena yang berada di
atas bukit, kamu akan langsung disambut oleh kegagahan gunung Inerie
yang berada di punggung kampung ini. Kamu tidak akan dipungut biaya
retribusi, semuanya seikhlas kamu saja alias sumbangan suka rela gitu.
Berjalan di bawah kabut gunung Inerie,
kamu dapat merasakan kesederhanaan hidup sekumpulan orang yang menetap
di kampung ini. 45 bangunan rumah adat akan menyambut kamu dengan
keunikan arsitekturnya. Penduduk kampung Bena, rata-rata bermata
pencaharian sebagai petani. Hasil pertanian yang cukup terkenal dari
warga kampung Bena yaitu, kopi Bajawa. Kopi Bajawa tidak kalah nikmat
dengan kopi Manggarai loh. Saat kamu di Bena, kamu harus merasakan
kenikmatan kopi ini.
Selain bertani, Ibu-Ibu di kampung ini
juga menyibukan diri dengan menenun. Jika kamu berkunjung ke Bena, kamu
dapat melihat langsung proses pembuatan kain tenun ikat. Bahkan di sini
juga sudah banyak ibu-ibu yang langsung menjual kain tenun buatan mereka
di pelataran rumahnya. Kalau kamu datang ke kampung ini pada bulan
Desember berarti kamu beruntung karena pada bulan tersebut sedang
diadakan upacara Reba Ngada.
Perlu untuk kamu ketahui agar kamu tidak
berpikir dua kali untuk berkunjung ke kampung ini, pada tahun 1995
kampung adat Bena sudah dicanangkan sebagai salah satu situs warisan
dunia oleh UNESCO loh. Jangan sampai kamu kalah sama wisatawan asing, kamu yang orang Indonesia, sempatkan untuk berkunjung ke kampung ini ya.
Kedua, kalau kamu ingin tahu desa tertua di Flores, coba deh berkunjung ke Kampung Adat Gurusina.
Tidak jauh dari Kampung adat Bena,
kamu bisa beralih ke kampung adat Gurusina. Di kampung adat ini terdapat
33 buah rumah adat yang berdiri dengan gagahnya. Pada tiap rumah adat
di perkampungan adat ini dilengkapi dengan boneka yang digunakan sebagai
penanda rumah. Boneka ini terbuat dari ijuk yang juga dapat ditemui
dengan mudah di sekitar perkebunan di sekitar kampung ini. Gurusina
merupakan kampung ada tertua di Flores yang berdiri tidak jauh dari
Gunung Inerie. Gurusina merupakan desa penghasil komoditi cengkeh,
kemiri, kakao, dan jambu mete. Kamu dapat mengagumi kekhasan arsitektur
dan melihat langsung proses pembuatan tenun ikat.
Ketiga, yuk belajar main alat musik Bombardom di Kampung Adat Tololela.
Kampung adat Tololela sama halnya
dengan kampung adat Bena dan kampung adat Gurusina, juga berada di
sekitar kaki gunung Inerie atau berada di lembah Jerebu’u. Kampung ini
berada di Desa Manubhara, Kecamatan Jerebu’u. Dari ibukota Bajawa kamu
bisa mencaai lokasi ini dalam waktu sekiatar 1 jam tanpa macet. Kampung
ini tidak bisa diakses dengan kedaraan. Untuk mencapai kampung Gurusina
kamu harus berjalan kaki selama 1 jam. Namun keistimewaan kampung ini
tidak akan membuatmu menyesal karena selain disuguhkan dengan sejarah
arsitektur yang sudah sangat lama, di kampung ini terdapat alat msuik
yang menarik banyak wisatawan untuk berkunjung loh.
Alat musik Bombardom memang tidak
sepopuler angklung namun alat musik tiup ini menjadi daya tarik yang
membuat nama kampung adat Tololela dikenal oleh wisatawan mancanegara.
Jika kamu berkunjung ke kampung ini, kamu bisa mencoba belajar memainkan
alat musik yang nyaris punah tersebut.
Keempat, Jangan lupa ke Kampung Adat Wae Rebo ya. Kampung yang jadi ikon Pulau Flores.
Perjalanan wisata kampung adat-mu di
Flores tidak akan berhenti dengan hanya mengunjungi kampung adat di
Bajawa. Kamu harus segera beranjak menuju kabupaten Manggarai. Wae Rebo,
siapa yang tidak kenal nama kampung ini. Kepopulerannya menjadi
pertanda bahwa wisata kampung adat kembali menjadi perhatian. Wae Rebo
merupakan sebuah kampung adat yang berada di ketinggian 1.200 mdpl lebih
tepatnya di desa Satar Lenda, kecamatan Satarmese Barat. Kampung ini
tersembunyi di antara gugusan pegunungan hujan tropis, lembah dan hutan.
Bentuk arsitektur rumah di kampung Wae
Rebo berbeda dengan bentuk arsitektur di kampung adat lain di Flores,
baik kampung adat yang berada di kabupaten Bajawa maupun Kabupaten Ende.
Dengan bentuk atap Kerucut yang terbuat dari ijuk, rumah di kampung ini
memiliki lima lantai yang semuanya terbuat dari kayu.
Kampung adat Wae Rebo juga jauh lebih
maju dari kampung adat di Flores lainnya. Kampung adat Wae Rebo sudah
memiliki fasilitas bagi wisatawan yang hendak menginap. Cukup dengan
biaya Rp 250.000 per orang, kamu sudah dapat merasakan sensasi tidur di
rumah adat ini. Juga sudah termasuk ongkos makan loh. Namun bila kamu
hanya bermaksud berkunjung tanpa menginap, kamu cukup membayar Rp.
100.000 per orang.
Akses menuju kampung adat Wae Rebo
gampang-gampang susa, sih. Jika kamu berada di kota Ruteng, kamu
bisa menempuh perjalanan dengan kendaraan selama empat jam menuju desa
Dintor. Dari Dintor kamu akan melanjutkan trekking ke kampung adat Wae
Rebo sejauh 9 km atau sekitar empat jam. Jika kamu baru pertama kali
berkunjung, kami sarankan sebaiknya kamu menyewa jasa pemandu dari warga
lokal. Cukup dengan harga 150 ribu per grup, murahkan?
Kelima, kamu bisa ke Kampung Adat Wologai Tengah; melihat rumah adat Sa’o Ria yang kental akan nilai sejarah.
Selain situs Bung Karno dan Danau
Kelimutu, Ende juga menyimpan kampung-kampung yang eksotis dan tentunya
sayang jika kamu lewatkan. Kampung ini terletak di Wologai Tengah,
Kabupaten Ende, Flores. Dari kota Ende, kamu cukup menempuh perjalanan
sejauh 45 km atau kurang lebih 2,5 jam. Banyak alternatif kendaraan yang
bisa kamu pilih, namun kami sarankan untuk menggunakan ojek yang dapat
ditemui dengan mudah di sepanjang jalan kota Ende. Mengunjungi desa ini,
kamu tidak perlu membayar sepeser pun. Setelah kamu tiba di kampung
ini, kamu akan disuguhkan oleh kemegahan rumah-rumah yang memiliki nilai
sejarah.
Rumah adat di kampung ini disebut dengan
istilah Sa’o Ria; merupakan rumah yang berbentuk panggung sederhana
dengan atap yang terbuat dari ijuk. Kampung ini memang tidak terlalu
luas, hanya diisi oleh beberapa rumah yang berusia sudah hampir ratusan
tahun.
Penduduk setempat, rata-rata bermata
pencaharian petani. Pada tanggal 25 Agustus hingga 15 September,
sebaiknya kamu persipakan untuk mengunjungi tepat ini, karena masyarakat
adat Desa Wologai akan melaksanakan ritual panen padi. Dicatat ya,
jangan sampai kamu lewatkan.
Keenam, Kampung Adat Saga yang penuh pesona.
Kampung Adat Saga merupakan kampung
yang didiami oleh masyarakat suku Lio yang masih terjaga kemurniannya.
Kampung ini berada tidak jauh dari tepi kawasan Taman Nasional Kelimutu
atau sekitar 30 km dari Kota Ende. Jika kamu ingin berkunjung ke kampung
Saga, kamu tidak akan kesulitan untuk mengenalinya karena sudah
terdapat tulisan “Welcome to Saga Village” yang terpampang di gerbang
masuk menuju kampung adat ini.
Di kampung ini juga kerap diadakan
upacara adat yang dimeriahkan dengan tarian Gawi. Jika kamu datang pada
saat musim panen tiba, kamu bisa merasakan kemeriahan tarian Gawi. Gawi
merupakan sebuah tarian yang sangat sederhana, cukup dengan
menghentak-hentakkan kaki saja. Tarian ini dilakukan secara bersamaan
dan kita akan saling bergenggaman tangan dengan orang lain lalu
membentuk lingkaran dan mulai menari. Jika kamu ingin ikut menari,
kamu bisa meminta warga setempat untuk meminjamkan busana adat
tradisional suku Lio, yaitu Lawo Lambu. Asyikkan?
Oh iya, jangan lupa untuk mampir sebentar
ke air terjun Muru Wena yang tidak jauh dari kampung ini. Kamu cukup
berjalan satu jam dan rasakan kesegaran air terjun ini.
Ya, itulah enam kampung adat
yang bisa Ngadem.com rangkum buat kamu. Oh iya, karena ini kampung
adat, kamu harus berlaku sopan ya karena banyak simbol-simbol
kepercayaan warga setempat yang harus kamu hormati.
Have fun..
source: http://ngadem.com/kampung-adat-flores/
No Responses to “Ketika Pulau Komodo dan Danau Kelimutu Sudah Terlalu Mainstream, Coba deh ke Kampung-Kampung Adat di Flores Berikut”
Leave a Reply