Langit menjerit menahan pahit Air berjatuhan tinggalkan awan Sungguh hati terkikis sakit Oleh tajamnya sebuah ucapan Malam tak lagi kelam Sunyi tak lagi sepi Tangan tak mampu menggenggam Berjuta harapan yang berlari Hujan bergemuruh Seiring hati yang runtuh Angin bertiup kencang Seiring rasa ini datang Hati lelah terus menanti Tanpa pernah dimengerti Hati lelah terus menanti Kau yang terus berlari Sadarkah kau akan kehadiranku? Sadarkan kau akan hatiku? Sadarkah kau akan rasaku? Sadarkah kau akan pengorbananku? Aku mencintaimu Tapi kau mencintainya Bagaimana dengan hatiku? Apakah kau memperdulikannya?
Ketika Pulau Komodo dan Danau Kelimutu Sudah Terlalu Mainstream, Coba deh ke Kampung-Kampung Adat di Flores Berikut
Ngadem.com – Sudah
seberapa sering sih kamu melihat foto-foto di Instagram yang mengeksplor
keindahan pulau Komodo atau Danau Kelimutu di Flores? Pasti tak
terhitung jumlahnya ya. Tapi kamu tidak berpikir kalau Flores cuma punya
Pulau Komodo dan Danau Kelimutu kan? Kalau sampai kamu berpikir seperti
itu, semoga tulisan ini dapat menyelamatkanmu.
Pertama, coba deh cek Kampung Adat Bena. Kamu bisa melihat proses pembuatan kain tenun ikat dan mencicip nikmatnya Kopi Bajawa.
Kampung Adat Bena via kekunaan.blogspot.com
Kampung Adat Bena merupakan kampung
primitif yang tersembunyi di balik gunung Inerie atau lebih tepatnya
berada di lembah Jerebu’u. Kampung Adat Bena terletak tidak jauh dari
jantung kota Bajawa. Dari pusat kota Bajawa, kamu hanya perlu menempuh
perjalanan kurang lebih satu jam. Kami sarankan untuk menggunakan
kendaraan pribadi karena akses angkutan umum di Bajawa yang belum
terlalu memadai.
Setibanya di Kampung Bena yang berada di
atas bukit, kamu akan langsung disambut oleh kegagahan gunung Inerie
yang berada di punggung kampung ini. Kamu tidak akan dipungut biaya
retribusi, semuanya seikhlas kamu saja alias sumbangan suka rela gitu.
Berjalan di bawah kabut gunung Inerie,
kamu dapat merasakan kesederhanaan hidup sekumpulan orang yang menetap
di kampung ini. 45 bangunan rumah adat akan menyambut kamu dengan
keunikan arsitekturnya. Penduduk kampung Bena, rata-rata bermata
pencaharian sebagai petani. Hasil pertanian yang cukup terkenal dari
warga kampung Bena yaitu, kopi Bajawa. Kopi Bajawa tidak kalah nikmat
dengan kopi Manggarai loh. Saat kamu di Bena, kamu harus merasakan
kenikmatan kopi ini.
Selain bertani, Ibu-Ibu di kampung ini
juga menyibukan diri dengan menenun. Jika kamu berkunjung ke Bena, kamu
dapat melihat langsung proses pembuatan kain tenun ikat. Bahkan di sini
juga sudah banyak ibu-ibu yang langsung menjual kain tenun buatan mereka
di pelataran rumahnya. Kalau kamu datang ke kampung ini pada bulan
Desember berarti kamu beruntung karena pada bulan tersebut sedang
diadakan upacara Reba Ngada.
Perlu untuk kamu ketahui agar kamu tidak
berpikir dua kali untuk berkunjung ke kampung ini, pada tahun 1995
kampung adat Bena sudah dicanangkan sebagai salah satu situs warisan
dunia oleh UNESCO loh. Jangan sampai kamu kalah sama wisatawan asing, kamu yang orang Indonesia, sempatkan untuk berkunjung ke kampung ini ya.
Kedua, kalau kamu ingin tahu desa tertua di Flores, coba deh berkunjung ke Kampung Adat Gurusina.
Kampung Adat Gurusina via yemkanuwafeto.blogspot.com
Tidak jauh dari Kampung adat Bena,
kamu bisa beralih ke kampung adat Gurusina. Di kampung adat ini terdapat
33 buah rumah adat yang berdiri dengan gagahnya. Pada tiap rumah adat
di perkampungan adat ini dilengkapi dengan boneka yang digunakan sebagai
penanda rumah. Boneka ini terbuat dari ijuk yang juga dapat ditemui
dengan mudah di sekitar perkebunan di sekitar kampung ini. Gurusina
merupakan kampung ada tertua di Flores yang berdiri tidak jauh dari
Gunung Inerie. Gurusina merupakan desa penghasil komoditi cengkeh,
kemiri, kakao, dan jambu mete. Kamu dapat mengagumi kekhasan arsitektur
dan melihat langsung proses pembuatan tenun ikat.
Ketiga, yuk belajar main alat musik Bombardom di Kampung Adat Tololela.
Alat Musik Bombardom di Kampung Adat Tololela via foto.kompas.com
Kampung adat Tololela sama halnya
dengan kampung adat Bena dan kampung adat Gurusina, juga berada di
sekitar kaki gunung Inerie atau berada di lembah Jerebu’u. Kampung ini
berada di Desa Manubhara, Kecamatan Jerebu’u. Dari ibukota Bajawa kamu
bisa mencaai lokasi ini dalam waktu sekiatar 1 jam tanpa macet. Kampung
ini tidak bisa diakses dengan kedaraan. Untuk mencapai kampung Gurusina
kamu harus berjalan kaki selama 1 jam. Namun keistimewaan kampung ini
tidak akan membuatmu menyesal karena selain disuguhkan dengan sejarah
arsitektur yang sudah sangat lama, di kampung ini terdapat alat msuik
yang menarik banyak wisatawan untuk berkunjung loh.
Alat musik Bombardom memang tidak
sepopuler angklung namun alat musik tiup ini menjadi daya tarik yang
membuat nama kampung adat Tololela dikenal oleh wisatawan mancanegara.
Jika kamu berkunjung ke kampung ini, kamu bisa mencoba belajar memainkan
alat musik yang nyaris punah tersebut.
Keempat, Jangan lupa ke Kampung Adat Wae Rebo ya. Kampung yang jadi ikon Pulau Flores.
Kampung Adat Wae Rebo via www.triptrus.com
Perjalanan wisata kampung adat-mu di
Flores tidak akan berhenti dengan hanya mengunjungi kampung adat di
Bajawa. Kamu harus segera beranjak menuju kabupaten Manggarai. Wae Rebo,
siapa yang tidak kenal nama kampung ini. Kepopulerannya menjadi
pertanda bahwa wisata kampung adat kembali menjadi perhatian. Wae Rebo
merupakan sebuah kampung adat yang berada di ketinggian 1.200 mdpl lebih
tepatnya di desa Satar Lenda, kecamatan Satarmese Barat. Kampung ini
tersembunyi di antara gugusan pegunungan hujan tropis, lembah dan hutan.
Bentuk arsitektur rumah di kampung Wae
Rebo berbeda dengan bentuk arsitektur di kampung adat lain di Flores,
baik kampung adat yang berada di kabupaten Bajawa maupun Kabupaten Ende.
Dengan bentuk atap Kerucut yang terbuat dari ijuk, rumah di kampung ini
memiliki lima lantai yang semuanya terbuat dari kayu.
Kampung adat Wae Rebo juga jauh lebih
maju dari kampung adat di Flores lainnya. Kampung adat Wae Rebo sudah
memiliki fasilitas bagi wisatawan yang hendak menginap. Cukup dengan
biaya Rp 250.000 per orang, kamu sudah dapat merasakan sensasi tidur di
rumah adat ini. Juga sudah termasuk ongkos makan loh. Namun bila kamu
hanya bermaksud berkunjung tanpa menginap, kamu cukup membayar Rp.
100.000 per orang.
Akses menuju kampung adat Wae Rebo
gampang-gampang susa, sih. Jika kamu berada di kota Ruteng, kamu
bisa menempuh perjalanan dengan kendaraan selama empat jam menuju desa
Dintor. Dari Dintor kamu akan melanjutkan trekking ke kampung adat Wae
Rebo sejauh 9 km atau sekitar empat jam. Jika kamu baru pertama kali
berkunjung, kami sarankan sebaiknya kamu menyewa jasa pemandu dari warga
lokal. Cukup dengan harga 150 ribu per grup, murahkan?
Kelima, kamu bisa ke Kampung Adat Wologai Tengah; melihat rumah adat Sa’o Ria yang kental akan nilai sejarah.
Kampung Adat Wologai Tengah via mrauul.blogdetik.com
Selain situs Bung Karno dan Danau
Kelimutu, Ende juga menyimpan kampung-kampung yang eksotis dan tentunya
sayang jika kamu lewatkan. Kampung ini terletak di Wologai Tengah,
Kabupaten Ende, Flores. Dari kota Ende, kamu cukup menempuh perjalanan
sejauh 45 km atau kurang lebih 2,5 jam. Banyak alternatif kendaraan yang
bisa kamu pilih, namun kami sarankan untuk menggunakan ojek yang dapat
ditemui dengan mudah di sepanjang jalan kota Ende. Mengunjungi desa ini,
kamu tidak perlu membayar sepeser pun. Setelah kamu tiba di kampung
ini, kamu akan disuguhkan oleh kemegahan rumah-rumah yang memiliki nilai
sejarah.
Rumah adat di kampung ini disebut dengan
istilah Sa’o Ria; merupakan rumah yang berbentuk panggung sederhana
dengan atap yang terbuat dari ijuk. Kampung ini memang tidak terlalu
luas, hanya diisi oleh beberapa rumah yang berusia sudah hampir ratusan
tahun.
Penduduk setempat, rata-rata bermata
pencaharian petani. Pada tanggal 25 Agustus hingga 15 September,
sebaiknya kamu persipakan untuk mengunjungi tepat ini, karena masyarakat
adat Desa Wologai akan melaksanakan ritual panen padi. Dicatat ya,
jangan sampai kamu lewatkan.
Keenam, Kampung Adat Saga yang penuh pesona.
Kampung Adat Saga via diasporaiqbal.blogspot.com
Kampung Adat Saga merupakan kampung
yang didiami oleh masyarakat suku Lio yang masih terjaga kemurniannya.
Kampung ini berada tidak jauh dari tepi kawasan Taman Nasional Kelimutu
atau sekitar 30 km dari Kota Ende. Jika kamu ingin berkunjung ke kampung
Saga, kamu tidak akan kesulitan untuk mengenalinya karena sudah
terdapat tulisan “Welcome to Saga Village” yang terpampang di gerbang
masuk menuju kampung adat ini.
Di kampung ini juga kerap diadakan
upacara adat yang dimeriahkan dengan tarian Gawi. Jika kamu datang pada
saat musim panen tiba, kamu bisa merasakan kemeriahan tarian Gawi. Gawi
merupakan sebuah tarian yang sangat sederhana, cukup dengan
menghentak-hentakkan kaki saja. Tarian ini dilakukan secara bersamaan
dan kita akan saling bergenggaman tangan dengan orang lain lalu
membentuk lingkaran dan mulai menari. Jika kamu ingin ikut menari,
kamu bisa meminta warga setempat untuk meminjamkan busana adat
tradisional suku Lio, yaitu Lawo Lambu. Asyikkan?
Oh iya, jangan lupa untuk mampir sebentar
ke air terjun Muru Wena yang tidak jauh dari kampung ini. Kamu cukup
berjalan satu jam dan rasakan kesegaran air terjun ini.
Ya, itulah enam kampung adat
yang bisa Ngadem.com rangkum buat kamu. Oh iya, karena ini kampung
adat, kamu harus berlaku sopan ya karena banyak simbol-simbol
kepercayaan warga setempat yang harus kamu hormati.
7 Alasan Ini Akan Membuatmu Sadar Kenapa Kami Bangga Jadi Orang Ende!
Ngadem.com
– Ende adalah sebuah Kota Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang
berada di pesisir selatan Pulau Flores. Kabupaten Ende berbatasan
dengan Kabupaten Sikka dan Kabupaten Nagekeo serta Laut Flores di Utara
dan Laut Sawu di Selatan. Di Kota Ende juga ada deretan gunung api;
Gunung Api Iya dengan ketinggian 637 mdpl, dan Gunung Mutubusa dengan
ketinggian 1.690 mdpl.
Nah dibalik semua itu, hal paling kece
dan membuat kota kecil ini dikenal oleh banyak orang yaitu Bung Karno,
presiden pertama Indonesia yang pernah diasingkan di sana. Tapi
percayalah, Ende bukan cuma itu. Ada banyak hal yang membuat kami merasa
bangga jadi orang Ende.
1. Siapa yang Tak Kenal dengan Danau Kelimutu? Danau Tiga Warna yang Cuma Ada di Ende dan Bikin Banyak Orang Jatuh Cinta!
Matahari terbit di Kelimutu via bloodydirtyboots.wordpress.com
Sudah tahu Danau Kelimutu, kan?
Sudah pernah mengunjunginya? Atau punya rencana ke sana? Walau sekali
dalam hidupmu, cobalah ke Danau Kelimutu. Gak akan rugi kok! Kemolekan
danau ini sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Pesona danau tiga warna
sudah terekam dalam ribuan lensa, ayolah masa kamu tidak mau mencoba
mengintip danau ini?
Danau Kelimutu berada di ketinggian
sekitar 1.640 meter di atas permukaan laut dengan penorama Gunung
Kelimutu dan pesona sunrise yang sangat menawan.
Danau Kelimutu nggak terlalu jauh dari
Kota Ende. Berjarak sekitar 54 kilometer di sebelah timur Kota Ende
dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Keunikan danau ini (yang tidak
dimiliki oleh danau lain) adalah warna danaunya yang senantiasa
mengalami perubahan. Ada tiga danau utama; Danau Tiwu Nua Muri Koo Fai,
DanauTiwu Ata Polo, dan Danau Tiwu Ata Mbupu.
2. Ende Jadi Tempat yang Menginspirasi Bung Karno untuk Merumuskan Dasar Negara Kita! Coba Kalau Tidak Ende?
Soekarno dan Ende via nanangicus.wordpress.com
Bung Karno pernah diasingkan di
Ende. Bahkan, rumah tempat Beliau diasingkan masih ada hingga saat ini.
Presiden pertama Indonesia itu menghabiskan empat tahun hidupnya di kota
pesisir pantai dan terasing dari tanah kelahirannya. Bayangkan
bagaimana kegalauannya saat itu? Tapi kegalauannya justru
membuat Soekarno kian bersemangat untuk memperjuangkan kemerdekaan
bangsa ini.
Ketika berada di Ende, Bung Karno
merumuskan konsep dasar yang kita kenal dengan nama Pancasila. Alam Ende
dan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja telah menginspirasi Bung
Karno untuk merumuskan banyak hal. Tidak hanya itu, Ende seolah telah
menyuntikkan semangat baru bagi Beliau untuk terus berjuang meraih
kemerdekaan bangsa. Bagaimana jadinya kalau Bung Karno tidak diasingkan
di Ende, mungkin saja Pancasila tidak akan pernah ada.
3. Ende Punya Tenun Ikat yang Banyak Digunakan Desainer Dunia, dan Tentu Saja Bisa Buatmu Kece Seketika!
Tenun Ikat atau Zawo Khas Ende-Lio via sekolengo.blogspot.com
Tenun ikat yang dalam bahasa Ende
disebut Zawo, adalah mahakarya yang kece abis dan tiada duanya. Bagi
masyarakat Ende, zawo adalah busana sehari-hari yang memiliki nilai atau
makna tertentu. Nah, akhir-akhir ini seiring dengan perkembangan trend
fashion, zawo sudah digemari oleh banyak orang dari berbagai kalangan.
Bukan hanya keunikan motifnya saja,
namun proses pembuatannya yang sangat-sangat rumit dan tidak
memanfaatkan mesin apapun adalah nilai lebih yang membuat zawo terasa
sangat elegan dan mahal. Coba kamu kreasikan zawomu dengan fashion item
modern lainnya, pasti kamu akan tambah kece dan cantik. So, gak perlu
malu atau takut dianggap kuno kalau menggunakan kain tradisional ini.
Sebaliknya, kamu harus bangga guys.
4. Pernah Lihat Angkot di Jakarta? Bandingkan Dengan Bemo di Ende, dan Kamu Akan Tahu Kenapa Kamu Harus Bangga Jadi Orang Ende!
Bemo Ende via Google Image
Buat kamu orang asli Ende yang
pernah ke Jawa atau Jakarta, kamu pasti tahu seperti apa sih angkot di
Jawa atau Jakarta? Sumpah, kalau kamu tahu sebaiknya kamu mulai lebih
bersyukur lagi karena menjadi orang Ende. Bemo di Ende tuh keren-keren.
Musiknya juga asyik-asyik belum lagi supir bemonya yang kece-kece abis.
Rata-rata dandanan supir bemo Ende tuh
keren-keren dan fashionable beud. Tapi kalau di Jawa atau di Jakarta
rata-rata supir angkotnya orang tua dan maaf ya, tidak terlalu
memusingkan kostum. Jadi, kamu harus bersyukur karena jadi orang Ende
karena bisa keliling kota dengan bemo kece dan kakak-kakak supir yang
juga kece abis.
5. Ende Jadi Salah Satu Ujung Tombak
Sektor Pariwisata di Flores. Tempat Wisatanya Melimpah Ruah. Cuma
Kepeleset Doank Udah Tiba di Tempat yang Kece Badai.
Pantai Penggajawa dan Pesona Batu Hijaunya via www.sayangi.com
Di kota-kota besar susah cari tempat wisata yang enak dan bersih.
Bahkan, di kota besar kalau mau ke pantai harus berkendara hingga
puluhan kilo. Bandingkan dengan di Ende. Ende itu kota pesisir yang itu
artinya kalau kamu mau ke pantai tinggal jalan kaki sedikit sampai deh
di pantai.
Pantai-pantai di Ende masih
bersih-bersih, sepi dan cocok untuk menenangkan diri. Belum lagi Pantai
Penggajawa yang terkenal dengan batu hijaunya. Nah, kamu kurang bangga
apa jadi orang Ende. Ok itu baru wisata pantai saja belum lagi wisata
kampung adatnya dan kekayaan adat dan tradisi yang hidup di sana.
6. Karena Sangat Dekat dengan Pantai, Jangan Heran Kalau Orang Ende Bisa Mengonsumsi Ikan Segar Setiap Hari.
Ikan Melimpah via www.flobamora.net
Makan sarden atau ikan air tawar
tidak akan terjadi bagi orang Ende dan sekitarnya karena pantai atau
laut mereka sudah cukup memberikan semua kebutuhan akan ikan-ikan segar
yang siap di olah jadi apa saja. Mau bakar boleh. Mau goreng boleh.
Iyakan?
Jangan heran deh kalau tiada hari bagi
orang Ende tanpa makan ikan segar. Tidak semua orang di tempat lain bisa
merasakannya, jadi sebagai orang Ende patut bersyukur dan berbangga ya.
7. Di Ende Semua Orang Bisa Hidup Rukun Satu Sama Lain. Nuansa Kebersamaannya Masih Kentel, Guys!
Menuju pemakaman via google image
Ini adalah alasan terakhir kenapa kami bersyukur karena telah terlahir sebagai orang Ende asli.
Why? Kamu pernah melihat betapa rukunnya orang Ende? Tentu saja.
Pemandangan seperti itu pasti bisa kamu temukan dengan mudah saat berada
di Ende.
Di Ende semua orang dari agama dan suku
yang berbeda hidup rukun dan saling menghormati satu sama lain. Tidak
ada yang bertengkar karena perbedaan tersebut. Bahkan dalam satu
keluarga besar, nyaris anggota keluarganya menganut agam yang
berbeda-beda. Itulah alasan kenapa orang Ende bisa hidup berdampingan
satu sama lain. Tidak hanya itu orang Ende masih sangat kental dengan
tradisi gotong-royongnnya loh.
So, apakah kamu punya alasan lain? Tulis pendapatmu di kolom komentar ya.